Monday, May 16, 2016

TIZEN: Platform berbasis web bukanlah hal baru. Sanggupkah menggantikan Android?

Platform berbasis web bukanlah hal baru.Sanggupkah menggantikan Android?


Tulisan Maykada Harjono,

Dalam majalah PCMedia edisi bulan ke dua tahun 2015


Seorang rekan di media sosial menulis ini, “biggest flaw in web application is JavaScript.” Saya agak meradang membacanya. Apa salah JavaScript? Menurut rekan tersebut, alangkah baiknya bila platform web menyediakan kode tingkat menengah , seperti assembly di .NET atau bytecode di Java, sehingga bahasa tingkat atas bukan Cuma JavaScript. Tidak sulit menebak arahnya, rupanya sebagai pengguna Pascal dia merasa terabaikan.

Padahal, mengapa tidak berpikir sebaliknya? JavaScript menyatukan semua programmer di web. Tidak perlu lagi debat kusir mengenai keunggulan suatu bahasa. Satu solusi untuk semua masalah hanya ilusi. Jadi terima saja ‘de facto’ ini dengan segala kekurangan dan kelebijhannya. Bahasa tak lebih  sebai alat penyampai perintah ke mesin. Sebagai turunan dai ‘C’ JavaScript terbukti sangat memadai dan luwes.

Bicara soal platform web, saya teringat sitem oprasi (OS) yang saat ini sedang hangat dikembangkan, yaitu Tizen.OS berbasis linux ini setidaknya didukung oleh Samsung, Intel, dan Linux Foundation. Samsung bahkan berencana menggukan di banyak perangkat. Mulai dari smartphone, tablet, televisi, kamera hingga mesin cuci. Targetnya adalah alternatif dari Android yang saat ini sangat dominan.

Mengembangkan OS baru jelas bukan perkara mudah. Tidak sekedar meletakkan pondasi yang kuat bagi aplikasi, tapi juga menggulirkan ekosistem pendukungnya. Faktanya, orang mencari aplikasi bukan sistem oprasi. Dulu ketika Microsoft mengembangkan Windows, lokomotif penariknya adalah Ms Office.Tanpa aplikasi perkantoran itu, Windows tidak akan sebesar sekarang.

Lagipula, apa kurangnya Android? Dengan dominasi 85% smartphone di seluruh dunia, sudah pasti ekosistemnya telah berjalan baik. Namus masalahnya, meskipun open source tapi andorid identik dengan Google. Tidak Cuma pendapatang yang termonopoli, tapi juga teknologi. Tentulah kondisi ini tidak sehat.

Salah satu isu yang melemahkan android adalah dia lambat karena menggunakan Java. Masihkah hal itu relevan? Aplikasi Android yang ber-bytecode Java memang tidak secepat kode native mesin. Namun aplikasi umumnya banyak mengandalkan interface dari OS, di mana di dalamnya berisi kode- kode native. Portabilitas dan kontrol terhadap aplikasi lebih penting nilainya daripada sekedar ringan dan cepat.

Di sisi lain, Tizen menonjolkan platform web sebai sebuah keunggulan. Dengan menggunakan HTML5 dan JavaScript, Tizem diklaim lebih ringan dari Android. Bagi para programmer web sendiri , kemudahan membuat aplikasi di perangkat mobile tentulah tawaran yang menarik. Memang cukup paradoks, bila di desktop dunia menyatu dangan sebuah web broser, tapi di Android hal itu ditunjukkan dengan aplikasi- aplikasi terpisah.

Pandangan analis teknologi terhadap Tizen kurang lebih sama—pesimis. Menurut survei IDC, selain empat OS yang dominan dipakai di smartphone, hanya tersisa 1% untuk lain- lain. Boleh jadi Tizen di dalamnya. Dengan pengguna hanya 1%, sulit mengharapkan ekosistem dapat berkembang. Developer menunggu pengguna, dan pengguna menunggu Developer. Ibarat lingkaran setan.

Bila dikritisi lebih dalam, tujuan pembuatan Tizen memang tidak jelas. Bila ingin OS ringan untuk perangkat tertentu, linux versi minimalis sudah banyak tersedia. Misalnya untuk router dan firewal, dengan spesifikasi hardware yang sangat rendah. Perangkat seperti kamera dan mesin cuci tidaklah butuh kemewahan HTML5 dan JavaScript.

Bilakah Tizen akan diterima di masyarakat? Hal ini berbanding lurus dengan manfaat yang ditawarkan. Realitas saat ini, begitu beragamnya aplikasi yang perlu ada di setiap smartphone. Mulai dari media sosial, media onlinemessaging, permainan, perbankan, penunjuk arah, hingga jadwal kereta. Selama aplikasi Tizen tidak sebanyak Android, jangan harap penggunak akan beralih.

Niat baik kemunculan alternatif teknologi tentu patut didukung. Namun, ketergantungan dengan Google nyatanya sulit dipisahkan. Layanan Google sudah lekat dengankehidupan kita. Belum lagi sejuta lebih aplikasi Android di Google Play. Sejatinya kita ingin berharap banyak dari Tizen, bilapun kandas sakitnya biarlah di sana.

Tulisan Maykada Harjono,

Dalam majalah PCMedia edisi bulan ke dua tahun 2015

2 comments: